close

Renungan

kita semua

HakikatRenunganUncategorized

Menyelami Hati Perempuan

understanding_woman

Perempuan itu makhluk rumit. Setidaknya begitu pendapat laki-laki yang terbentur soalan dengan perempuan. Menurutku ada benarnya. Setidaknya dalam kasus tertentu. Tapi memahami perempuan sebenarnya tidak begitu sulit, hanya butuh kesabaran dan menurunkan ego sendiri.

Aku sebagai laki-laki, sudah banyak bertemu dengan perempuan dari latar belakang berbeda. Aku berpendapat bahwa hati perempuan itu tidak beda jauh dengan laki-laki. Mungkin yang membedakan adalah komposisi antara perasaaan dan akal sehat. Laki-laki konon, lebih dominan logikal dalam menyikapi sesuatu, sedangkan perempuan lebih dominan perasaan. Entah itu benar atau tidak tapi ada benarnya walau tidak seratus persen, karena bergantung dengan kondisi masing-masing. Keseimbangan antara logikal dan perasaan sebenarnya bisa disetel sesuai kondisi. Karena saat logikal dominan, perasaan menurun, maka sering dilabeli ‘tidak berperasaan’. Saat perasaan dominan dibanding logikal, maka labelnya menjadi cengeng/baper dan sebutan lainnya. Tapi perempuan juga tidak selalu dominan perasaan, ada juga yang bisa menyeimbangkan. Jadi semua bergantung situasi, konteks dan kondisi yang ada.

Menurut pengalamanku, dari beberapa aku mengenal ‘dekat’ dengan perempuan, yang selalu dikeluhkan oleh mereka terhadap laki-laki adalah masalah kepekaan. Kepekaan ini memang sangat lembut dan butuh perasaan lembut juga untuk bisa menyikapi terhadap situasi yang ada. Perempuan terkadang tidak secara gamblang menyampaikan sesuatu jika ada yang diinginkan. Disini laki-laki dituntut untuk bisa memahami dan melakukan sesuatu agar keingianannya bisa dipenuhi. Seperti kalimat “aku tidak apa-apa”. Justru disitulah ada sesuatu yang tidak beres. Aku beberapa kali pernah ‘terbentur’ dengan kondisi seperti ini, dan rata-rata aku terlambat menyadari setelah hal itu terjadi. Mau tidak mau harus melakukan sesuatu agar semua ada ‘kesepahaman’ dan tidak jarang harus menyampaikan maaf yang dalam. Tapi apakah semua itu selesai dengan ‘maaf’.

Tidak selalu. Meyakinkan mereka itu yang tidak mudah. Tidak seperti membalikkan sebuah kertas. Ini adalah tantangan buat laki-laki. Kejantanan laki-laki diperlukan, jika memang salah, yang mengaku salah dan harus minta maaf. Ego laki-laki harus bisa dikesampingkan untuk mengatasi hal ini.

Kalau boleh digambarkan, menyelami hati perempuan itu ibarat berjalan di suasana temaram sangat minim cahaya dan obyek sekitar nampak tidak begitu jelas tapi kita dituntut untuk tahu itu benda apa serta jika berjalan tidak boleh menabrak atau memegangnya. Perasaan dan kepekaan harus menjadi senjata agar bisa memahami apa yang diinginkan.

Laki-laki lain, ada yang bilang “ahh menyelami hati perempuan itu gak gitu sulit kok”. Ya benar, tapi perempuan seperti apa itu. Perempuan juga manusia, manusia itu secara umum adalah makhluk paling komplek dibanding makhluk lain. Latar belakang perempuan, cara berpikir, cara menyikapi dan cara memahami tentu akan memberikan perbedaan tiap perempuan. Di poin ini kadang laki-laki sering tidak sengaja ‘terjeblos’ sehingga menimbulkan ‘luka’ di hati perempuan. Ego kelelakian terkadang menjadi pemicunya.

Terus apakah laki-laki harus bisa berpikir seperti perempuan agar bisa memahami secara utuh?. Tidak harus menurutku, tapi mencari tahu apa yang tidak harus dan harus dilakukan di saat yang tepat untuk perempuan, itu yang harus dan terus diupayakan agar tidak ‘terjeblos’ (lagi). Perasaan perempuan itu sensitif, perasaan perempuan itu halus, perasaan perempuan unik, maka butuh penanganan yang unik pula.

Untuk memahami perempuan tidak perlu menjadi perempuan apalagi bertransformasi secara fisik menjadi perempuan tapi cukup terus belajar memahaminya dan bertindak dengan cepat di waktu yang tepat.

view 35 times.

read more
RefleksiRenungan

Satu Keburukan Merusak Seribu Kebaikan

evil-vs-angel

Aku terkesan dengan sebuah status Facebook yang ku temui secara tidak sengaja di lini masa (timelines) hari ini. Status tentang satu keburukan menghancurkan seribu kebaikan dan kebenaran. Manusia lebih cenderung mengingat sesuatu yang buruk dibanding sesuatu yang disebut ‘baik’. Kecederungan manusia melihat manusia lain, jika memang ditokohkan maka harus mempunyai kriteria ideal. Ideal menurut kacamata manusia lain.

Menjadi ideal itu salah satu tujuan dari sebuah capaian. Capaian yang diharapkan bisa memenuhi keinginan hati dan pikiran manusia tersebut. Misal, seorang tokoh sebuat saja Andi, dalam melakukan pekerjaan atau menjalankan jabatan selalu berpegang pada ketentuan dan pedoman yang ada. Hanya cara implementasinya berbeda dari orang-orang yang sebelumnya pernah di posisinya. Hasil kerjanya dinilai berhasil dan diakui oleh banyak kalangan karena ternyata bisa mengatasi persoalan yang selama ini tidak jelas solusinya. Singkatnya sukses.

Satu situasi ternyata Andi mengalami atau mendapatkan keadaan dimana yang selama ini dilihat oleh orang-orang baik ternyata dalam kenyataan akhir menjadi tidak ‘baik’. Respon dan label-label disematkan. Ada yang melihat secara jernih bahwa Andi juga manusia tempatnya salah, tapi tidak sedikit langsung kecewa dan berubah menjadi pembenci atau malah memberikan penghakiman yang berlebihan.

Seolah kebaikan yang selama ini dibuat sirna tak berbekas atau terlupakan hanya karena penilaian satu pihak yang tidak tahu duduk permasalahannya.

Menilai orang lain itu mudah sekali, tidak sesulit menilai diri sendiri. Menjadi bijak dengan melihat permasalahan secara jernih tentu lebih baik dan layak untuk diusahakan.
Kebaikan dan keburukan itu suatu hal yang bisa dilakukan oleh manusia secara bergantian bahkan bersamaan. Keterhubungan antara keduanya menggunakan ‘atau’ bukan ‘dan’. Artinya ‘atau’ itu tidak absolut. Seribu kebaikan, satu keburukan jika dalam konteks keterhubungan ‘atau’ tetap saja kebaikan yang menang. Bukan keburukan. Maknanya adalah bahwa ‘atau’ itu suatu opsi atau pilihan bukan suatu keharusan seperti ‘dan’.

Kitapun dalam menyikapinya, entah dalam rangka menilai atau bereaksi juga harus lebih luwes dan lentur, bukan saklek. Ingat mereka juga manusia, seperti kita. Mungkin kita bisa seperti di posisi mereka di lain waktu. So, bijaksanalah dalam menyikapi segala hal yang ada disekitar kita.

view 13 times.

read more
Renungan

Mengubah Mindset

mindset

Pernahkah kita merasa sangat kesal karena ulah orang lain karena mereka berbeda dalam menyikapi sesuatu atau tidak sepemikiran dengan kita. Misal ada orang yang sangat menjaga image atau gengsinya, jadi makan atau minum pun harus ditempat tertentu. Atau ada orang dalam beragama sangat kaku, sedangkan kita merasa lebih luwes.

Melihat hal itu ada dua kemungkinan. Pertama mengabaikan atau tidak merespon lebih lanjut. Kedua, berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk berusaha mengubah cara berpikirnya orang itu sehingga sepemikiran dengan kita.

Aku pernah berusaha untuk mengubah persepsi salah satu anggota keluargaku. Anggota keluargaku ini memang dikenal ‘keras’ dalam memegang prinsip yang diyakininya. Waktu itu aku sangat kesal dan sampai adu argumen panjang. Prinsipku, apapun orang itu harus sepakat dengan pemikiranku. Akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa orang ini ‘batu’ atau keras dan aku ‘menyerah’ dengan sendirinya. Perasaan kesal dan dongkol masih tersisa sampai 3 hari setelah peristiwa itu. Ujungnya menguap dan terlupakan. Ada suatu kompromi dan mencairnya ego diri.

Hari ini kalau aku mengingat peristiwa itu, malah merasa geli dan lucu. Kenapa aku dulu sampai segitunya mempertahankan pemikiranku dan rela diadu dengan pemikiran orang terhadap suatu masalah yang dilihat sekarang tidak terlalu berarti.

Jika ditarik dari hal diatas, sebuah persoalan atau masalah itu akan selesai atau ketemu jawabannya seiring dengan jalannya waktu. Kenapa dulu hal tersebut bisa menjadi sumber pertentangan, tapi sekarang tidak?. Cara pandang orang terhadap masalah tersebut yang berubah dan cara menyikapinyapun juga berubah. Tapi apakah semua orang seperti itu dalam menyikapi sebuah persoalan. Aku amati tidak semuanya.

Ada istilah orang tersebut ‘terjebak masa lalu’. Melihat hari ini tapi menggunakan kaca mata masa lalu, sehingga yang muncul adalah sebuah ‘kekesalan’ dan berkencederungan salah dimata orang itu. Oleh orang yang berpikir masa kini, orang tersebut diberi label ‘kolot’ atau ‘kuno’. Kolot atau kuno dalam konteks cara berpikirnya. Tapi apa salah berpikir ‘kolot’ itu?. Menurutku tidak selalu salah, karena ada pemikiran ‘kolot’ yang masih bisa digunakan hingga saat ini, seperti ajaran luhur atau ajaran baik.

Jadi tidak usahlah mati-matian berusaha mengubah cara berpikir orang lain, cukup sampaikan pendapat kita beserta alasan yang bisa diterima akal sehat, setelah itu biarkan proses berjalan seperti adanya. Hormati pemikiran orang itu, sadari kenapa orang tersebut berpikir seperti itu, mungkin hanya baru sampai permahaman mereka.

Nah, pahamkan sayang.

view 11 times.

read more
LifeLoveRenungan

Cinta itu Sama Dengan Benci

love_hate

Cinta itu ruang dan waktu, yang setiap saat bisa berubah.
Berubah menjadi lebih bermakna atau bermakna baru bahkan menjadi benci sebencinya.
Cinta dan benci tipis bedanya. Cinta dan benci berbahan dasar sama, energi.
Energi yang tercipta tidak dapat dimusnahkan tapi dapat menjelma menjadi bentuk lain, seperti cinta dan benci.
Terus bedanya punya pasangan dan tidak punya pasangan (jomblo).
Sama tapi beda. Sama-sama dapat membahagiakan, yang punya pasangan membahagiakan pasangannya, yang tidak punya pasangan dapat membahagiakan diri sendiri sebelum membahagiakan pasangannya kelak.
Semua itu tergantung bagaimana cara menikmatinya kok.
Tidak dipungkiri bahwa orang yang paling dicintai adalah yang paling dibenci.
Karena kekuatan cinta dan benci itu bersumber dari energi yang sama.
Dahsyatnya cinta saat berubah menjadi benci sebesar itu atau bahkan lebih besar lagi rasa benci yang ditimbulkan.
Mengapa hal ini terjadi?. Karena cinta menuntut dan memeras energi rasa serta menumpulkan logik pikir.
Aku pikir harus ada perimbangan antara rasa dan pikir.
Apapun itu. Bahkan dalam memahami agamapun, faktor pikir kudu terlibat.
Bukan untuk mementahkan isi ajaran, tapi untuk lebih bisa memaknai apa yang tersirat di ajaran-ajaran atau firman yang ada.
Aku yakin Tuhan itu mencipta manusia sebagai makhluk paling sempurna karena dianugerahi kemampuan pikir, tentunya agar kita bisa berpikir atau menggunakan daya pikir untuk mensyukuri atau menjalankan agama kita.
Jadi yang bercinta, bercintalah berlandas pikir yang sehat.
Yang gagal bercinta, sadari benci yang timbul bukan menentramkan diri tapi merusak diri.
Beban itu akan selalu menempel erat selama tidak ada kerelaan untuk melepas.
Terlalu lama nempel akan menimbulkan ‘kenyamanan’ semu. Nyaman tapi sakit. Sakit tapi ‘nyaman’.
Dan juga tidak perlu memanjakan pikir, karena bisa mematikan rasa. Rasa simpati dan rasa empati.
Yang sewajarnya, karena sewajarnya itu baik. Baik buat diri dan semua.
Sewajarnya seperti apa?.
Seperti yang diyakini dan disepakati saat ini, dan bersiap jika parameter sewajarnya berubah atau menyesuaikan jaman.
Terbuka dengan segala kemungkinan dan mengupayakan sebuah kemajuan.
Selamat pagi dan selamat berakhir pekan.

view 20 times.

read more
Refleksi

Orang Tua Menjadi Monster Untuk Anak

hari_anak_nasional

Hadir ke dunia dengan segala kemurnian dan kelucuannya. Kemurnian dan kelucuannya sering terampas oleh ‘kenakalan’ orang tua. Bahwa benar orang tua berkewajiban mendidik anak agar menjadi agar anak dapat menunjukkan eksistensinya di dunia. Di bagian ini orang tua sering memasukkan hal-hal yang baik menurutnya berharap anak seperti yang diharapkan.

Tidak sedikit orang tua memasukkan obsesi-obsesinya yang tidak/belum tercapai dan tidak sedikit pula mengabaikan minat/passion dari si anak itu sendiri.

Sangat wajib bahwa orang tua memberikan hal terbaik untuk anaknya, tapi jangan sampai mengabaikan hak anak untuk menyampaikan keinginannya sesuai passionnya. Orang tua sangat boleh memberikan arahan tentang apa yang diinginkan si anak. Mudah berperan sebagai orang tua bagi si anak tapi tidak mudah menjadi sahabat yang baik bagi anak.

Saat anak kita dilabeli ‘nakal’, ‘bermasalah’ atau apapun, sebenarnya bukan si anak yang bermasalah tapi orang tualah yang bermasalah. Karena tidak ada anak yang bermasalah, yang ada orang tua bermasalah.

Anakku tumbuhlah dengan cita-citamu, besarkan keinginanmu, wujudkanlah. Aku kawal dengan nilai-nilai luhur, ajaran-ajaran suciNya dan kebijakan alam.
Selamat harimu, hari anak nasional.

view 21 times.

read more
RefleksiRenungan

Yang Tersisa Pasca Lebaran

antokoedorcom_kapan_nikah

Terkadang momen Idul Fitri itu dijadikan seperti reset momen dimana sebuah keinginan direalisasikan yang selama ini dibuaikan oleh ego-ego baru yang muncul silih berganti sehingga melenakan keinginan itu sendiri.

Nanti deh habis lebaran aja“. Pernyataan ini terkandung sebuah alihan keinginan karena mau fokus pada momen lebaran menjelang. Karena pada momen itu terjadi sebuah leburan aneka perasaan seperti ketemu keluarga, nuansa kampung halaman, ketemu teman sekolah, reuni, ketemu mantan saat dulu ber-cinta monyet atau kekangenan kuliner tertentu yang jarang dinikmati lagi.

Terkadang ada momen atau peristiwa yang memberikan hikmah yang diperoleh pasca menikmati semua itu. Ada yang menjadi geram karena sebuah pertanyaan sadis “kapan nikah” atau “kapan mau meresmikan hubungan dengan anakku, bapak gak enak sama tetangga soalnya sudah lama“. Jleb atau minimal hang sesaat mendapat pernyataan itu. Itu bagi yang masih belum keluarga.

Bagi yang sudah menikah pertanyaan “udah bermomongan belum?” Terkadang menyisakan rasa kurang nyaman bahkan ada yang sampai ‘menghindar’ dari sebuah acara keluarga besar, karena ‘alergi’ dengan pertanyaan itu yang mungkin pertanyaan itu tidak terucapkan oleh siapapun, tapi ‘ketakutan’ telah menutup keinginan untuk bersilaturahmi. Mungkin ini berlebihan, tapi benar terjadi.

Pancaran kegembiraan terpancar dari raut muka karena seperti terpuaskan oleh momen-momen spesial yang didapat selama lebaran. Semangat baru, bagai mendapatkan sebuah tenaga ekstra untuk mewujudkan keinginan-keinginan yang selama ini seperti ‘stuck’ karena kondisi tertentu.

Disisi lain, bisa jadi kemurungan yang didapat karena ternyata ada satu atau beberapa pertanyaan/pernyataan membuatnya menjadi lebih berpikir keras, karena hal ini diluar dugaan. Seperti ‘todongan’ calon pasangan atau orang tua pasangan yang mengkonfirmasikan keseriusan hubungan yang selama ini dijalani. Sebenarnya kemurungan bisa menjadi sebuah optimisme jika mental sudah siap, walau ‘tekanan’ itu tetap terasa.

Hal ini sama dengan penerima pertanyaan ‘sadis’ “kapan nikah?”. Ada yang menjawab dengan diplomatis, ada yang mengabaikan itu tapi ada juga yang langsung menurunkan mood seketika. Tentu berbeda-beda respon dari memaknai pertanyaan tadi. Variabel seperti teman seumuran sudah ada yang menggendong anak, atau teman seangkatan sudah menikah semua dan faktor umur seperti menambah tekanan yang berujung pada kondisi merenung.

Semua tadi bisa menjadi sebuah persoalan tapi bisa juga menjadi sebuah tantangan. Bergantung memaknai pertanyaan/pernyataan tadi. Momen lebaran memang selalu memberikan nuansa tertentu, walaupun setiap tahun momen itu ada. Perubahan diri/keinginan, capaian, dan dinamisnya hidup selalu membuat momen itu berbeda tiap tahunnya.

Momen pasca lebaran yang jelas bisa menjadi pijakan hebat untuk membuat diri semakin hebat. Momen untuk membuktikan bahwa semua bisa diwujudkan jika fokus dan terus berusaha.

Aku cukup bahagia saat teman-temanku mendapat sesuatu yang selama ini diinginkan, seperti dapat membeli motor baru, keseriusan untuk segera mengakhiri masa lajangnya atau teman baru yang mempunyai semangat tinggi untuk membuktikan diri mampu bertanggung jawab pada diri sendiri maupun keluarganya.

Akhirnya, puji syukur kupanjantkan sebagai bentuk perwujudan kebersyukuranku dengan apa yang aku dapatkan selama ini dari keluarga dan teman-temanku.

Will be great together !. Will be success together.

view 15 times.

read more
MotivasiRefleksiRenungan

Tuhan Tak Seiseng Itu

Tuhan_tak_seiseng_itu

Usahaku lagi terpuruk sepertinya ada yang tidak suka dan berusaha untuk membuat usahaku merugi atau bangkrut”. “Kondisi keuanganku lagi ke-reset, aku terjebak dan segala usahaku tak membuahkan hasil”. Dan diakhiri dengan pernyataan “Rejekiku ada yang nutup”.
Dua kalimat dan satu pernyataan kesimpulan diatas seolah menjadi pembenaran atas semua yang sedang terjadi, dan kebiasaan manusia saat tidak bisa menemukan jawaban atas masalahnya paling mudah ya menyalahkan, meng-kambing-hitam-kan (padahal putih lebih mulus). Pernyataan “Rejekiku ada yang nutup”, secara tidak langsung menuduh Tuhan, karena rejeki (seperti banyak yang menyakini) itu hak prerogatif Tuhan. Apa Tuhan begitu jahatnya atau begitu isengnya menutup rejeki umatnya?. Aku gagal paham dengan pernyataan diatas.

Apa kita sendiri yang tidak menyadari bahwa apa yang sedang terjadi merupakan tahapan proses atas doa-doa kita sebelumnya?. Tuhan pemegang segala yang Maha loh. Jadi cara Tuhan mengabulkan doa umatnya yang pasti bisa menggunakan banyak cara. Nah, kalau begini berarti manusia itu sendiri yang tidak menyadari. Sering dan bahkan kita paham bahwa setiap mau naik kelas itu harus melewati serangkaian tes. Tapi apa hal ini hanya berlaku dalam dunia persekolahan saja dan tidak berlaku dalam hal yang lain?. Aku kira persekolahan atau yang lain semisal hidup manusia itu sendiri pasti ada serangkaian ujian jika mau naik kelas.

Berhenti sejenak, beri ruang agar bisa melihat permasalahan lebih jelas. Ingat jika kita ngaca di cermin terlalu dekat justru kita tidak bisa melihat dengan jelas bayangannya, jadi butuh ruang yang cukup agar saat ngaca dapat melihat dengan jelas bayangan kita di cermin. Menelaah pola-pola kerja yang sudah dilakukan, terima jika kurang tepat, kemudian temukan pola-pola baru dan lakukan walau mungkin mengulang dari awal. Percayalah Tuhan itu mengabulkan semua doa umatnya, dan caranya bisa sangat beragam, bahkan ‘menyakitkan’ saat umatnya sendiri masih keukeh dengan pola lama yang tidak memberdayakan.

Jadi bagi yang merasa rejekinya lagi seret, dan dirimu menganggap ini karena ulah orang/pihak lain yang tidak suka (singkatnya ‘disantet’), Tuhan tidak seiseng itu menutup rejeki umatnya, tapi umatnyalah yang tidak tahu diri serta males berusaha.

view 31 times.

read more
Life

Ujian dan Persoalan

antokoe-Enjoy-life-quote-wallpaper

“Usahaku lagi terpuruk sepertinya ada yang tidak suka dan berusaha untuk membuat usahaku merugi atau bangkrut”.
“Kondisi keuanganku lagi ke-reset, aku terjebak dan segala usahaku tak membuahkan hasil”. Dan diakhiri dengan pernyataan “Rejekiku ada yang nutup”.

Dua kalimat dan satu pernyataan kesimpulan diatas seolah menjadi pembenaran atas semua yang sedang terjadi, dan kebiasaan manusia saat tidak bisa menemukan jawaban atas masalahnya paling mudah ya menyalahkan, meng-kambing-hitam-kan (padahal putih lebih mulus).

Pernyataan “Rejekiku ada yang nutup”, secara tidak langsung menuduh Tuhan, karena rejeki (seperti banyak yang menyakini) itu hak prerogatif Tuhan. Apa Tuhan begitu jahatnya atau begitu isengnya menutup rejeki umatnya?.

Aku gagal paham dengan pernyataan diatas. Apa kita sendiri yang tidak menyadari bahwa apa yang sedang terjadi merupakan tahapan proses atas doa-doa kita sebelumnya?. Tuhan pemegang segala yang Maha loh. Jadi cara Tuhan mengabulkan doa umatnya yang pasti bisa menggunakan banyak cara.

Nah, kalau begini berarti manusia itu sendiri yang tidak menyadari. Sering dan bahkan kita paham bahwa setiap mau naik kelas itu harus melewati serangkaian tes. Tapi apa hal ini hanya berlaku dalam dunia persekolahan saja dan tidak berlaku dalam hal yang lain?. Aku kira persoalahan atau yang lain semisal hidup manusia itu sendiri pasti ada serangkaian ujian jika mau naik kelas.

Berhenti sejenak, beri ruang agar bisa melihat permasalahan lebih jelas. Ingat jika kita ngaca di cermin terlalu dekat justru kita tidak bisa melihat dengan jelas bayangannya, jadi butuh ruang yang cukup agar saat ngaca dapat melihat dengan jelas bayangan kita di cermin.

Menelaah pola-pola kerja yang sudah dilakukan, terima jika kurang tepat, kemudian temukan pola-pola baru dan lakukan walau mungkin mengulang dari awal. Percayalah Tuhan itu mengabulkan semua doa umatnya, dan caranya bisa sangat beragam, bahkan ‘menyakitkan’ saat umatnya sendiri masih keukeh dengan pola lama yang tidak memberdayakan.

Jadi bagi yang merasa rejekinya lagi seret, dan dirimu menganggap ini karena ulah orang/pihak lain yang tidak suka (singkatnya ‘disantet’), Tuhan tidak seiseng itu menutup rejeki umatnya, tapi umatnyalah yang tidak tahu diri serta males berusaha.

view 11 times.

read more
HakikatRenungan

antokoe Layak Mendapatkan Amanah

amanah

Kemarin ngobrol sama saudara, yang intinya galau karena kenapa sampai sekarang anaknya belum juga dikaruniai keturunan padahal sudah lama menikah. Sebenarnya bukan karena pengen menimang cucu tapi lebih pada agar anaknya bisa berubah dari sifat high temper, selfish (egois) dll. Orang tua berharap saat dulu anaknya menikah setidaknya bisa mengurangi, tapi ternyata itu belum dirasa cukup.

Harapan berikutnya adalah saat anaknya memberikan cucu, mungkin dapat berubah lebih baik lagi. Cukup lama aku mendengarkan curhatan saudaraku ini.

view 45 times.

read more
1 2 3 11
Page 1 of 11