close
mindset

Pernahkah kita merasa sangat kesal karena ulah orang lain karena mereka berbeda dalam menyikapi sesuatu atau tidak sepemikiran dengan kita. Misal ada orang yang sangat menjaga image atau gengsinya, jadi makan atau minum pun harus ditempat tertentu. Atau ada orang dalam beragama sangat kaku, sedangkan kita merasa lebih luwes.

Melihat hal itu ada dua kemungkinan. Pertama mengabaikan atau tidak merespon lebih lanjut. Kedua, berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk berusaha mengubah cara berpikirnya orang itu sehingga sepemikiran dengan kita.

Aku pernah berusaha untuk mengubah persepsi salah satu anggota keluargaku. Anggota keluargaku ini memang dikenal ‘keras’ dalam memegang prinsip yang diyakininya. Waktu itu aku sangat kesal dan sampai adu argumen panjang. Prinsipku, apapun orang itu harus sepakat dengan pemikiranku. Akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa orang ini ‘batu’ atau keras dan aku ‘menyerah’ dengan sendirinya. Perasaan kesal dan dongkol masih tersisa sampai 3 hari setelah peristiwa itu. Ujungnya menguap dan terlupakan. Ada suatu kompromi dan mencairnya ego diri.

Hari ini kalau aku mengingat peristiwa itu, malah merasa geli dan lucu. Kenapa aku dulu sampai segitunya mempertahankan pemikiranku dan rela diadu dengan pemikiran orang terhadap suatu masalah yang dilihat sekarang tidak terlalu berarti.

Jika ditarik dari hal diatas, sebuah persoalan atau masalah itu akan selesai atau ketemu jawabannya seiring dengan jalannya waktu. Kenapa dulu hal tersebut bisa menjadi sumber pertentangan, tapi sekarang tidak?. Cara pandang orang terhadap masalah tersebut yang berubah dan cara menyikapinyapun juga berubah. Tapi apakah semua orang seperti itu dalam menyikapi sebuah persoalan. Aku amati tidak semuanya.

Ada istilah orang tersebut ‘terjebak masa lalu’. Melihat hari ini tapi menggunakan kaca mata masa lalu, sehingga yang muncul adalah sebuah ‘kekesalan’ dan berkencederungan salah dimata orang itu. Oleh orang yang berpikir masa kini, orang tersebut diberi label ‘kolot’ atau ‘kuno’. Kolot atau kuno dalam konteks cara berpikirnya. Tapi apa salah berpikir ‘kolot’ itu?. Menurutku tidak selalu salah, karena ada pemikiran ‘kolot’ yang masih bisa digunakan hingga saat ini, seperti ajaran luhur atau ajaran baik.

Jadi tidak usahlah mati-matian berusaha mengubah cara berpikir orang lain, cukup sampaikan pendapat kita beserta alasan yang bisa diterima akal sehat, setelah itu biarkan proses berjalan seperti adanya. Hormati pemikiran orang itu, sadari kenapa orang tersebut berpikir seperti itu, mungkin hanya baru sampai permahaman mereka.

Nah, pahamkan sayang.

view 5 times.

Tags : egokolotmindsetrenungan
antokoe

The author antokoe

Leave a Response

Prove to me if you're Human? *