close
evil-vs-angel

Aku terkesan dengan sebuah status Facebook yang ku temui secara tidak sengaja di lini masa (timelines) hari ini. Status tentang satu keburukan menghancurkan seribu kebaikan dan kebenaran. Manusia lebih cenderung mengingat sesuatu yang buruk dibanding sesuatu yang disebut ‘baik’. Kecederungan manusia melihat manusia lain, jika memang ditokohkan maka harus mempunyai kriteria ideal. Ideal menurut kacamata manusia lain.

Menjadi ideal itu salah satu tujuan dari sebuah capaian. Capaian yang diharapkan bisa memenuhi keinginan hati dan pikiran manusia tersebut. Misal, seorang tokoh sebuat saja Andi, dalam melakukan pekerjaan atau menjalankan jabatan selalu berpegang pada ketentuan dan pedoman yang ada. Hanya cara implementasinya berbeda dari orang-orang yang sebelumnya pernah di posisinya. Hasil kerjanya dinilai berhasil dan diakui oleh banyak kalangan karena ternyata bisa mengatasi persoalan yang selama ini tidak jelas solusinya. Singkatnya sukses.

Satu situasi ternyata Andi mengalami atau mendapatkan keadaan dimana yang selama ini dilihat oleh orang-orang baik ternyata dalam kenyataan akhir menjadi tidak ‘baik’. Respon dan label-label disematkan. Ada yang melihat secara jernih bahwa Andi juga manusia tempatnya salah, tapi tidak sedikit langsung kecewa dan berubah menjadi pembenci atau malah memberikan penghakiman yang berlebihan.

Seolah kebaikan yang selama ini dibuat sirna tak berbekas atau terlupakan hanya karena penilaian satu pihak yang tidak tahu duduk permasalahannya.

Menilai orang lain itu mudah sekali, tidak sesulit menilai diri sendiri. Menjadi bijak dengan melihat permasalahan secara jernih tentu lebih baik dan layak untuk diusahakan.
Kebaikan dan keburukan itu suatu hal yang bisa dilakukan oleh manusia secara bergantian bahkan bersamaan. Keterhubungan antara keduanya menggunakan ‘atau’ bukan ‘dan’. Artinya ‘atau’ itu tidak absolut. Seribu kebaikan, satu keburukan jika dalam konteks keterhubungan ‘atau’ tetap saja kebaikan yang menang. Bukan keburukan. Maknanya adalah bahwa ‘atau’ itu suatu opsi atau pilihan bukan suatu keharusan seperti ‘dan’.

Kitapun dalam menyikapinya, entah dalam rangka menilai atau bereaksi juga harus lebih luwes dan lentur, bukan saklek. Ingat mereka juga manusia, seperti kita. Mungkin kita bisa seperti di posisi mereka di lain waktu. So, bijaksanalah dalam menyikapi segala hal yang ada disekitar kita.

view 29 times.

Tags : ahokkebaikankeburukanmanusia
antokoe

The author antokoe

Leave a Response

Prove to me if you're Human? *