close
antokoedorcom_kapan_nikah

Terkadang momen Idul Fitri itu dijadikan seperti reset momen dimana sebuah keinginan direalisasikan yang selama ini dibuaikan oleh ego-ego baru yang muncul silih berganti sehingga melenakan keinginan itu sendiri.

Nanti deh habis lebaran aja“. Pernyataan ini terkandung sebuah alihan keinginan karena mau fokus pada momen lebaran menjelang. Karena pada momen itu terjadi sebuah leburan aneka perasaan seperti ketemu keluarga, nuansa kampung halaman, ketemu teman sekolah, reuni, ketemu mantan saat dulu ber-cinta monyet atau kekangenan kuliner tertentu yang jarang dinikmati lagi.

Terkadang ada momen atau peristiwa yang memberikan hikmah yang diperoleh pasca menikmati semua itu. Ada yang menjadi geram karena sebuah pertanyaan sadis “kapan nikah” atau “kapan mau meresmikan hubungan dengan anakku, bapak gak enak sama tetangga soalnya sudah lama“. Jleb atau minimal hang sesaat mendapat pernyataan itu. Itu bagi yang masih belum keluarga.

Bagi yang sudah menikah pertanyaan “udah bermomongan belum?” Terkadang menyisakan rasa kurang nyaman bahkan ada yang sampai ‘menghindar’ dari sebuah acara keluarga besar, karena ‘alergi’ dengan pertanyaan itu yang mungkin pertanyaan itu tidak terucapkan oleh siapapun, tapi ‘ketakutan’ telah menutup keinginan untuk bersilaturahmi. Mungkin ini berlebihan, tapi benar terjadi.

Pancaran kegembiraan terpancar dari raut muka karena seperti terpuaskan oleh momen-momen spesial yang didapat selama lebaran. Semangat baru, bagai mendapatkan sebuah tenaga ekstra untuk mewujudkan keinginan-keinginan yang selama ini seperti ‘stuck’ karena kondisi tertentu.

Disisi lain, bisa jadi kemurungan yang didapat karena ternyata ada satu atau beberapa pertanyaan/pernyataan membuatnya menjadi lebih berpikir keras, karena hal ini diluar dugaan. Seperti ‘todongan’ calon pasangan atau orang tua pasangan yang mengkonfirmasikan keseriusan hubungan yang selama ini dijalani. Sebenarnya kemurungan bisa menjadi sebuah optimisme jika mental sudah siap, walau ‘tekanan’ itu tetap terasa.

Hal ini sama dengan penerima pertanyaan ‘sadis’ “kapan nikah?”. Ada yang menjawab dengan diplomatis, ada yang mengabaikan itu tapi ada juga yang langsung menurunkan mood seketika. Tentu berbeda-beda respon dari memaknai pertanyaan tadi. Variabel seperti teman seumuran sudah ada yang menggendong anak, atau teman seangkatan sudah menikah semua dan faktor umur seperti menambah tekanan yang berujung pada kondisi merenung.

Semua tadi bisa menjadi sebuah persoalan tapi bisa juga menjadi sebuah tantangan. Bergantung memaknai pertanyaan/pernyataan tadi. Momen lebaran memang selalu memberikan nuansa tertentu, walaupun setiap tahun momen itu ada. Perubahan diri/keinginan, capaian, dan dinamisnya hidup selalu membuat momen itu berbeda tiap tahunnya.

Momen pasca lebaran yang jelas bisa menjadi pijakan hebat untuk membuat diri semakin hebat. Momen untuk membuktikan bahwa semua bisa diwujudkan jika fokus dan terus berusaha.

Aku cukup bahagia saat teman-temanku mendapat sesuatu yang selama ini diinginkan, seperti dapat membeli motor baru, keseriusan untuk segera mengakhiri masa lajangnya atau teman baru yang mempunyai semangat tinggi untuk membuktikan diri mampu bertanggung jawab pada diri sendiri maupun keluarganya.

Akhirnya, puji syukur kupanjantkan sebagai bentuk perwujudan kebersyukuranku dengan apa yang aku dapatkan selama ini dari keluarga dan teman-temanku.

Will be great together !. Will be success together.

view 11 times.

Tags : kapan nikahlebaranpasca lebaran
antokoe

The author antokoe

Leave a Response

Prove to me if you're Human? *